Kamis, 23 April 2015

PENGERTIAN SOCIAL FACILITATION, SOCIAL LOAFING, dan DEINDIVIDUASI

A.  PENGERTIAN SOCIAL FACILITATION

Fasilitasi berasal darikata Perancis facile, artinya mudah. Kata mudah ini menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas performa karena ditonton oleh kelompok. Kelompok mempengaruhi kualitas performa sehingga terasa lebih mudah dilakukan.(Rahmat:2012)

Menurut David G.Myers arti yang sebenarnya dari Fasilitas sosial adalah  kecenderungan bagi seseorang untuk menampilkan tugas-tugas yang sederhana atau telah dipelajari dengan baik dan menampilkan secara lebih baik ketika orang lain berada diantara mereka. Sebetulnya jika kita telaah lebih jauh lagi Fasilitas sosial bukan menjadi istilah yang tepat dipandang dari beberapa hal, sebab kehadiran suatu kelompok malah menjadi penghambat sebuah  performa atau kinerja. Istilah ini mungkin tepat digunakan pada penelitian-penelitian awal Psikologi sosial yang berkenaan dengan fasilitas social. Triplett(1897) menunjukkan bagaimana prestasi anak-anak meningkat ketika pekerjaan mereka dilakukan dihadapan kelompok.
            .
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, fasilitasi sosial adalah dampak kinerja yang berasal dari orang lain. Dampak yang dihasilkan dapat berupa dampak positif (meningkatkan kinerja) dan dapat juga berdampak negatif (menghambat kinerja). Dengan adanya dua dampak tersebut dapat disebut sebagai fasilitasi-hambatan social, yaitu frase yang lebih akurat dalam menggambarkan dampak yang kompleks dari hadirnya orang lain.

Contoh yang lebih kongkrit dari social facilitation adalah ketika mahasiswa/i yang diberikan tugas oleh dosen dan nilai tertinggi akan diberikan kepada mahasiswa/i yang mengerjakan tugas paling baik maka mahasiswa/i akan berlomba-lomba untuk membuat tugas dengan sebaik mungkin dalam contoh ini saya fikir penilaian dari dosen yang memberi nilai lebih tinggi kepada mahasiswa/i yang mengerjakan tugas dengan lebih baik akan memunculkan prilaku social facilitation dibandingkan jika penilaian dosen dibuat sama untuk setiap mahasiswa/I yang mengerjakan tugas

B.   PENGERTIAN SOCIAL LOAFING

Social loafing atau bisa disebut dengan keengganan sosial merupakan sebuah fenomena dimana seseorang bekerja kurang dari performanya ketika mereka bekerja dalam suatu kelompok daripada mereka bekerja sendiri. Pengertian social loafing ini berbeda dengan free rider. Free rider tidak memberikan kontribusi apapun kepada kelompok namun memperoleh hasil yang sama dengan anggota kelompok lain. Sedangkan social loafer, orang yang melakukan social loafing, sengaja mengurangi usahanya atau kinerjanya karena beranggapan bahwa adanya penilaian yang tidak adil atau penilaian yang tidak jelas atas kinerja masing-masing anggota dalam kelompok tersebut. Social loafing ini pertama kali ditemukan oleh Maximilian Ringelmann ketika dia melakukan penelitian terhadap sekelompok orang yang menarik sebuah tali. Ketika jumlah orang yang menarik tali tersebut bertambah, usaha untuk menarik tali tersebut lebih besar.

Contoh dari social loafing menurut saya adalah ketika seorang keryawan yang memiliki kemampuan yang baik dalam bekerja secara kelompok dan dia bekerja di sebuah perusahaan yang terbiasa untuk membuat kelompok kerja ketika terjadi suatu masalah yang sulit untuk dipecahkan oleh perorangan tetapi ketika masalah berhasil dipecahkan reward yang diberikan oleh perusahaan sama untuk setiap anggota kelompok. perusahaan tersebut tidak pernah melihat anggota kelompok yang benar-benar memiliki skill atau kemampuan yang bagus dalam memecahkan masalah dengan anggota kelompok yang hanya memiliki kemampuan yang sederhana, bisa saja karyawan tersebut akan berkurang performanya karena dia mulai berfikir saya bekerja dengan baik atau tidak baik hasil yang didapat toh akan sama seperti yang lain.

C.   PENGERTIAN DEINDIVIDUASI

Maksud dari deindividuasi adalah proses hilangnya jati diri atau kepribadian seseorang ketika dirinya bergabung dengan sebuah kelompok. Ketika seseorang kehilangan jati dirinya karena bergabung dengan kelompok, ia bisa melakukan tindakan-tindakan yang tidak mungkin dilakukannya jika yang bersangkutan sendirian. Kasus seperti ini akhir-akhir ini banyak terjadi di Indonesia. Beberapa pertandingan sepak bola di tanah air, misalnya banyak diwarnai kerusuhan yang dilakukan oleh para supporter khususnya ketika klub yang dijagokannya mengalami kekalahan. Supporter yang melakukan kerusuhan tersebut boleh jadi secara individual mempunyai kepribadian yang baik, namun ketika bergabung dengan kelompok terjadilah apa yang disebut collective mind (cara berpikir kolektif) yang bersifat tidak rasional. Penyebab tindakan tidak rasional semacam ini disebabkan karena (a) secara individual tidak orang yang tahu siapa dirinya dan dia menjadi bukan siapa-siapa karena telah kehilangan tanggung jawab pribadinya, (b) pengaruh buruk kelompok menyebabkan seseorang bisa bertindak secara berbeda dan berupaya melakukan tindakan seperti yang dilakukan anggota kelompok lain, serta (c) dalam sebuah kelompok, seseorang biasanya tersugesti untuk melakukan tindakan seperti yang dilakukan orang lain ketika dirinya merasa mendapat tekanan dari anggota kelompok lainnya.

Contoh dari deindividuasi menurut saya adalah ketika seseorang yang baru membeli motor sport dan ia mulai bergabung dengan perkumpulan atau club motor sport dan peraturan yang ada di club motor tersebut ternyata banyak yang bersifat negative dan mampu membuat prilaku orang tersebut yang tadi nya berprilaku baik setelah masuk ke club motor tersebut perilaku nya berubah menjadi brutal menurut saya ini menunjukan perilaku Deindividuasi

Sumber :  

http://octachen2702.blogspot.com/2013/04/dinamika-kelompok-s-ebagaimakhluk.html

https://ningratama.wordpress.com/2009/12/04/social-loafing/   
                                                                 http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_umum2/bab3_interaksi_sosial.pdf





Tidak ada komentar:

Posting Komentar