Sabtu, 04 Juni 2016

Metode Ilmiah Sebagai Ciri IPA

Metode Ilmiah Sebagai Ciri IPA

1. Metode Ilmiah
 Berfikir secara rasional dan empirismembentuk dua kutub yang saling bertentangan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Akhirnya timbul gagasan untuk menggabungkan kedua pendekatan ini sehingga tersusun metode yang lebih dapat diandalkan untuk menemui ilmu pengetahuan yang benar. Gabungan antara dua pendekatan, rasional dan empiris dinamakan metode ilmiah.rasionalisme memberikan krangka pemikiran yang koheren dan logis, sedangkan empirisme dapat memastikan kebenarannya memberi kerangka pengujiannya. Dengan demikian, pengetahuan yang dihasilkan ialah pengetahuan yang konsisten dan sistematis serta dapat di andalkan karena telah di uji secara empiris. Cara berfikir rasional dan empiris tersebut tercermin dalam langkah-langkah yang terdapat dalam proses kegiatan ilmiah tersebut, kerangka dasar prosedurnya dapat diuraikan atas langkah-langkah berikut.
a.       Penemuan atau penentuan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai masalah. Kesadaran mengenai        masalah yang kita temukan secara empiris tersebut menyebabkan kita mulai memikirkannya secara rasional.
b.      Perumusan kerangka masalah
 Langkah ini merupakan usaha untuk mendeskripsikan permasalahannya secara lebih        jelas.
c.       Pengajuan hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran sementara yang menjelaskan hubungan antara  unsur-unsur yang membentuk suatu kerangka permasalahan.
d.      Deduksi hipotesis
 Kadang-kadang, dalam menjembatani permasalahan secara rasional dengan pembuktian          secara empiris membutuhkan langkah perantara.
e.       Pengujian hipotesis
Langkah ini merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis.

f.       Keterbatasan dan keunggulan metode ilmiah
a)   Keterbatasan:
            Semua kesimpulan ilmiah atau kebenaran ilmu termasuk Ilmu Pengetahuan Alam bersifat tentatif, yang artinya kesimpulan itu di anggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu, sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang terdahulu, menjadi kebenaran ilmu yang baru. Keterbatasan lain dari metode ilmiah adalah tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, tentang seni dan keindahan, dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji adanya Tuhan.
b)Keunggulan:
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan Alam mempunyai ciri khas yaitu obyektif, metodik, sistematik, dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut, maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan akan terbimbing sedemikian rupa hingga padanya terkembangkan suatu sikap ilmiah.

B. Sikap Ilmiah
        Menurut Rosmini dikutip Purnama (2008:115), mengemukakan bahwa salah satu   aspek tujuan dalam mempelajari Ilmu Alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah, yang antara lain
1.      Jujur
Melaporkan hasil pengamatan secara objektif.  Dalam penelitian ilmiah ada hal-hal yang memaksa pada ilmuwan untuk jujur, kita sebut faktor kontrol.  Faktor kotrol dibedakan menjadi dua yaitu internal dan eksternal.  Seorang ilmuwan telah dilatih untuk memperhatikan kontrol internal dalam setiap penelitiannya, dengan ini faktor kebetulan disingkirkan.   Kontrol eksternal ialah dalam hal ini ilmuwan lain akan mengulangi penelitian ilmuwan pertama dengan kondisi yang dibuat serupa dst.  Karena itu laporan ilmuwan haruslah dibuat sejujur-jujurnya dan penelitian menjadi terbuka untuk pengulangan. 
2.      Terbuka,  seorang ilmuwan harus mempunyai pandangan luas, terbuka, bebas dari praduga, tidak meremehkan gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima atau menolaknya. 
3.      Toleran :  tidak merasa dirinya paling hebat dan tidak memaksakan suatu pendapat kepada orang lain.Skeptis  :  ilmuwan pencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui dan skeptis.
4.      Sikap skeptis perlu dikembangkan untuk menghindarkan menerima kesimpulan yang salah oleh karena itu setiap informasi perlu diuji, kebenarannya perlu dicek,  informasi memerlukan verifikasi.  Setelah bukti-bukti cukup baru boleh mengambil kesimpulan dan akhirnya memberikan keputusan.
5.      Optimis :ilmuwan harus berpengharapan baik dan tidak berpikiran bahwa sesuatu tidak dapat dikerjakan.
6.      Pemberani :berani melawan ketidakbenaran, penipuan, manipulasi data yang menghambat kemajuan.
       a.  Mencintai kebenaran yang obyektif, dan bersikap adil.
       b.  Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolut.
       c.  Tidak percaya pada takhayul, astrologi, maupun untung-untungan.
       d.  Ingin tahu lebih banyak.
       e.  Tidak berpikir secara prasangka.
       f.  Tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.
       g. Optimis, teliti, dan berani menyatakan kesimpulan yang menurut keyakinan ilmiahnya adalah benar.

C. Kriteria Ilmiah
         Kriteria atau ukuran merupakan faktor penting untuk menentukan benar tidaknya sesuatu masuk kedalam status tertentu. Pengetahuan termasuk kategori ilmu jika memenuhi kriteria berikut : secara berurutan (teratur), berobjek, bermetode, berlaku umum dan besistem.

Ilmu alamiah mempelajari semua alam yang berada disekitar kita. Jadi benda-benda alam itulah objek Ilmu alamiah. Sesuai dengan tujuan ilmu, ilmu alamiah ingin memperoleh kebenaran mengenai objeknya. Kebenaran yang sedalam-dalamnya yang hendak dicakup oleh ilmu, karena ilmuwan baru merasa puas jika ilmu yang diperolehnya sesuai dengan objek. Persesuaian antara pengetahuan dengan objek yang diselidiki itulah yang disebut kebenaran. Dengan metode yang tepat, ilmu akan mencapai kebenaran. Kebenaran yang bersifat umum mengenai suatu objek walaupun hanya salah satu dari objek, yang akan dicapai dengan metode ilmiah, dengan kebenaran itu telah dirumuskan perlu diorganisasikan dan diklarifikasikan.
Pencarian ilmu pengetahuan ilmiah (metode ilmiah) dilakukan berdasarkan pemikiran rasional, pengalaman empiris (fakta), maupun referensi pengalaman sebelumnya. Cara untuk mendapatkannya harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
1.      Objektif, pengetahuan itu harus sesuai objeknya.
2.      Metodik, pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan    terkontrol.
3.      Sistimatis, pengetahuan ilmiah yang tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lainnya saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga keseluruhannya merupakan satu    kesatuan yang utuh.      
4.      Berlaku Umum, pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseoramg atau sekelompok orang, tetapi dengan pengalaman itu diperoleh hasil yang sama atau konsisten.

Keseluruhan langkah ini harus ditempuh agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah, lewat metode inilah nantinya akan melahirkan ilmu-ilmu baru yang menjadi cikal bakal lahirnya ilmu alamiah modern terutama Ilmu Pengetahuan Alam (Tim UPT MPK Unsri, dikutip Hanzat, dkk , 2010)

A.   Hakikat IPA

Ilmu Pengetahuan Alam dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains berasal dari  bahasa Latin yaitu Scientia yang berarti “saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata Science yang berarti “pengetahuan”. Science kemudian berkembang menjadi sosial science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai : systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and based mainly on observation and induction (yang diartikan bahwa IPA didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dab didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi).

IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuan yang dilakukan denganketerampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Defini ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasipenalaran aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Pengertian IPA menurut Trowbridge and Bybee (1990) sains atau IPA merupakan representasi dari hubungan dinamis yang mencangkup tiga factor utama yaitu : The extant body of sicientific knowledge, the values of science and the methods and processes of science, yang artinya sains merupakan produk, dan proses serta mengandung nilai-nilai. Oleh karena itu IPA juga harus di pandang sebagai cara berfikir untuk memahami alam, sebagai cara untuk melakukan penyelidikan dan sebagai kumpulan pengetahuan.





Kerangka berfikir IPA adalah bahwa :
1.   Di alam ada pola yang konsisten dan berlaku universal
2.   Suatu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena
3.   Selalu berubah dan bukan kebenaran akhir
4.   Bersifat terbatas, tidak bisa menentukan mana yang baik atau buruk

B.   Metode ilmiah sebagai Dasar IPA

Manusia sebagai makhluk hidup diberi akal budi oleh Tuhan, dengan akal budi manusia timbul rasa ingin tahu yang selalu berkembang dan tak pernah ada puasnya. Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan tanpa batas menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia. Pengetahuan yang diperoleh akhirnya tidak terbatas pada obyek-obyek yang dapat diamati dengan panca indera saja, tetapu juga masalah lain yang berhubungan dengan baik atau buruk, indah atau tidaknya, dan sebagainya. Manusia melalui panca indera yang manusia miliki dapat menerima rangsangan dan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan, termasuk gejala di alam semesta ini. Tanggapan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman. Pengalaman tersebut dari zaman ke zaman akan terakumulasi, karena manisia mempunyai rasa ingin tahuterhadap segalanya di alam semesta ini. Perkembangan pengetahuan lebih diperlancar lagi dengan adanya tukar menukar informasi mengenai pengetahuan dan pengalaman manusia yang satu dengan yang lain sehingga akumulasi pengetahuan berlangsung cepat.

C.   Operasional Metode Ilmiah

Ilmu alamiah adalah kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis. Maksudnya adalah kegiatan manusia yang tiada henti dari hasil percobaan yang akan menghasilkan konsep. Tujuan ilmu alamiah menurut para ahli adalah mencari kebenaran tentang objeknya, dan kebenaran itu bersifat relative. Metode ilmiah menggabungkan cara berfikir deduktif dan induktif. Cara berfikir deduktif adalah cara berfikir dimana penarikan kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum, dan cara berfikir deduktif terkait dengan pengetahuan rasionalisme. Cara berfikir induktif adalah cara berfikir yang menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari pernyataan khusus. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan penyataan-pernyataan khusus.
Langkah-langkah metode ilmiah :

1.             Perumusan masalah
Yang dimaksud masalah itu adalah suatu pernyataan yang di awali dengan bertanya tentang suatu obyek yang diteliti dan masalah ini harus jelas.
2.     Penyusunan hipotesis
Yaitu jawaban sementara materinya merupakan kesimpulan dari kerangka yang dikembangkan.
3.     Pengujian hipotesis
Yaitu pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakan fakta-fakta tersebut mendukung hipotesis atau tidak.
4.      Penarikan kesimpulan
Yaitu didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Hipotesis diterima bila fakta yang terkumpul itu mendukung hipotesis tersebut.

 D.   Perkembangan IPA

Awal IPA dimulai pada saat manusia memperlihatkan gejala-gejala alam, mencatatnya kemudian mempelajari. Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam yang ada. Kemudian makin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya. Dengan peningkatan daya pikirnya, manusia akhirnya dapat melakukan eksperimen maka lahirlah IPA sebagai ilmu yang mantap. Pengetahuan yang terkumpul sejak zaman kuno sampai pertengahan sudah banyak tetapi belum tersusun secara sistematis dan belum dianalisis menurut jalan pikiran tertentu. Kesimpulan yang didapat, biasanya masih diwarnai oleh cara berpikir ahli filsafat, agama, atau mistik. Setelah ditemukannya alat-alat yang makin sempurna maka dikembangkanlah metode eksperimen. Setelah dikembangkannya metode eksperimen ini pengetahuan berkembang dengan pesat.

Perkembangan ilmu pengetahuan dimulai tanpa pembedaan. Dilanjutkan menjadi IPA, IPS dan Budaya. Perkembangan yang semakin pesat menyebabkan IPA diklasifikasikan menjadi berbagai disiplin ilmu, dilanjutkan dengan sub-disiplin ilmu dan diteruskam menjadi bagian yang sangat fokus. Sejalan dengan itu juga muncul ilmu multidisiplin baru sebagai lanjutan dari munculnya fenomena baru yang tidak mungkin ditelaah hanya dari satu disiplin ilmu saja.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar