Senin, 20 Juni 2016

Review Jurnal kualitatif

Review Jurnal psikologi

I.   A. Judul Penelitian
 Jurnal penelitian kualitatif
    B. Nama Penulis
  Olivia M, Kaparang
    C. Nama Jurnal
  Analisi Gaya Hidup Remaja Dalam Mengimitasi Budaya  Pop Korea Melalui Televisi     (studi pada siswi SMA Negri 9, Manado)
D. Tahun dan penerbit 
“Acta Diurna”. Vol. II/No.2/2013

II. Tujuan penulisan
       Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis gaya hidup remaja SMA Negri 9, Manado dalam mengimitasi budaya pop korea melalui televisi

III. Latar Belakang Masalah
Sehubung dengan perkembangan zaman, teknolgi masa kini juga semakin berkembang pula terutama di zaman globalisasi ini. Globalisasi membuat interaksi antara seluruh warga dunia menjadi bebas dan terbuka seolah-olah batasan-batasan suatu Negara menjadi sempit dan salah satu dampak dari globalisasi adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi ini pun tampaknya semakin memudahkan kita dalam berbagai bidang terlebih dalam bidang telekomunikasi. Kita dapat dengan mudah dan cepat memperoleh informasi baik dari dalam negri maupun luar negri. Hal ini membuat seakan-akan tidak ada lagi batasan-batasan dalam berbagi informasi antar manusia.
Tak hanya berbagi informasi yang dapat disebarkan dengan cepat melalui hadirnya berbagi teknologi telekomunikasi yang mutakhir tersebut, budaya pun dapat dengan mudah disebarkan keseluruh dunia. Hal ini berkaitan dengan globalisasi budaya dimana pernyataan ini dapat dikatakan sebagai suatu gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu dari suatu Negara keseluruh dunia sehingga menjadi budaya dunia atau world culture.
Salah satu budaya yang tengah mempengaruhi berbagai Negara adalah budaya pop Korean atau yang lebih dikenal dengan sebutan K-POP/Hallyu wave/Korean wave. Indonesia pun terikut imbas penyebaran budaya ini terutama dikerenakan Indonesia merupakan Negara berkembang yang sudah dipengaruhi Negara-negara maju penyebaran budaya korea ini juga terbentuk dengan berbagai media masa yang giat memperkenalkan budaya tersebut dan salah satu media massa yang intensif dalam menyebarkan budaya ini adalah televisi. Hamper setiap hari kita dapat menonton acara-acara yang berhubungan dengan budaya pop Korean ini dihampir seluruh stasiun televise.
Ketertarikan akan budaya ini pun semakin meningkat terutama dikalangan remaja, secara  khusus dikalangan remaja SMA Negri 9, manado. Berawal dari melihat berbagai berita di media massa, mereka mulai mengumpulkan informasi mengenai budaya tersebut dan akhirnya mulai mengimitasi budaya tersebut kedalam gaya hidup keseharian mereka. Dapat dikatakan terjadi pergeseran dalam mengaktualisasikan nilai budaya Indonesia ke budaya pop Korean dimana budaya tersebut belum tentu sesuai dengan budaya kita dan tekesan semakin melupakan budaya bangsa sendiri.   

IV. Tinjuan Pustaka
Konsep tentang gaya hidup
“Gaya Hidup adalah cara hidup yang di identifikasi oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitar nya”. (Plummer, 1983)
Jadi gaya hidup dapat dikatakan suatu pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas, minta, dan opini nya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungan nya.  Menurut chaney (dalam subandy, 1997), ada beberapa bentuk gaya hidup antara lain :
a.       Industri gaya hidup
b.      Iklan gaya hidup
c.       Public relation dan journalism gaya hidup
d.      Gaya hidup mandiri
e.       Gaya hidup hedonis
Menurut pendapat amstrong (dalam nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat dari prilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunkan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan dan penetuan kegiatan-kegiatn tersebut. Lebih lanjut amstrong menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang bersal dari luar individu (eksternal). Faktor imternal yaitu pengalaman, sikap, pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan presepsi. Sedangkan faktor luar terdiri dari kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan.
Konsep Remaja
Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun (sarwono, 1997). Monks berpendapat bahwa secara global masa remaja berlangsung antara 12-21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun merupakan masa remaja awal, 15-18 tahun merupakan masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun merupakan masa remaja akhir (monks, 2002). Sedangkan WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batas usia remaja. Batasan usia ntersebut didasarkan atas dasar kesuburan wanita yang berlaku juga untuk pria.
Konsep Imitasi
Imitasi merupakan dorongan untuk meniru orang lain. Imitasi tidak berlangsung secara otomatis melainkan dipengaruhi sikap menerima dan mengagumi apa yang di imitasi . untuk mengadakan imitasi atau meniru ada faktor psikologis lain yang berperan. Dengan kata lain imitasi tidak berlangsung secara otomatis, tetapi ada faktor lain yang berperan sehingga seseorang mengadakan imitasi. Bagaimana orang dapat mengimitasi sesuatu kalau orang yang bersangkutan tidak mempunyai sikap menerima terhadap apa yang di imitasi itu. Dengan demikian untuk mengimitasi sesuatu perlu adanya sikap menerima, ada sikap mengagumi dengan apa yang di imitasi itu karena itu imitasi berlangsung dengan sendiri nya.
Konsep Budaya Pop korean
  Kata “pop” di ambil dari kata populer  yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti dikenal dan disukai orang banyak atau umum. Untuk istilah populer, Williams memberikan empat makna yaitu banyak disukai orang, jenis kerja rendahan, kerja yang dilakukan untuk menyenangkan orang, dan budaya yang memang dibuat oleh orang untuk diri nya sendiri (Williams, 1983:90)
Menurut beberapa definisi dari kata “Budaya” dan “popular” di atas, dapat diseimpulkan bahwa budaya populer adalah suatu kebudayaan yang sudah berkembang atau suatu pandangan hidup, praktik, dan karya yang disukai oleh orang banyak.
Budaya popular korea diantara nya adalah sinetron/drama tv korea (contoh: full house, you’re beautiful, boys before flower dll), film korea (contoh : my sassy girl, marrying the mafia, dll)
Konsep Televisi
Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa yunani dan visio (pengelihatan) dari bahsa latin sehingga televisi diartikan sebagai alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/pengngelihatan. Penggunaan kata “televise” sendiri juga dapat merujuk kepada “kota televise”, “acara televise” atau “transmisi televise” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia televise artinya adalah 1) sistem penyiran gambar yang disertai bunyi (suara) melalui kabel atau melaui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat di dengar; 2) pesawat penerimaan gambar siaran televise.
Konsep Teori Modeling
  Teori modeling teori ini merupakan aplikasi dari teori belajar social yang dikemukakan oleh albert bandura (1986), seorang psikolog dari kanada. Menurut teori belajar sosial orang belajar dari orang lain melaui observasi, peniruan, dan permodelan. Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita juga dapat menggunakan seorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagi model.
Kaitan teori modeling dengan penelitian yang akan dilaksanakan adalah salah atu efek dari media massa adalah terjadinya pengimitasian yang dilakukan pemirsa yang didasarkan apa yang dilihat di media massa. Dalam hal ini, efek dari tayangan televise yang berhubungan dengan budaya pop Korean menarik perhatian pemirsa di kalangan remaja sehingga terjadilah pengimitasian. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, maka teori modeling dapat menjelaskan bagaimana remaja SMA 9, Manado mengimitasi budaya pop korea yang tengah populer kedalam gaya hidup mereka sehari hari dimana saat ini budaya Korean tengan menjadi role model mereka.      
        
V. Metode Penelitian 
- Jenis/ Metode Penelitian
Teknik yang digunakan untuk menentukan informasi dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling dimana informasi dipilih dalam pertimbangan dan tujuan tertentu
- Metode Pengambilan Data
Data yang dikumpulkan berupa hasil wawancara mendalam serta observasi langsung serta beberapa artikel-artikel dari majalah/Koran/internet yang kemudian data yang diperoleh dianalisi secara deskriptif kualitatif
VI. Hasil Penelitian
Sebagian informasi menyatakan bahwa mereka mengikuti perkembangan budaya pop korea melalui televisi bahkan merekapun mengetahui waktu penayangan untuk acara-acara korea tersebut. Hal ini pula sesuai dengan praktek hidup dan gaya mereka yang mengadopsi sekaligus mengoleksi semua hal yang berhubungan dengan budaya pop korea. Selain itu salah satu informasi menyatakan bahwa ia lebih sering mengikuti perkembangan budaya pop korea melalui internet yang menurutnya lebih cepat menampilkan berbagai informasi baru tentang budaya pop Korean.dapat dikatakan mereka lebih mengikuti perkembangan budaya luar dibandingkan budaya sendiri.
Pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak pun terlihat kurang direspon dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan frekuensi serta durasi menonton acara korea melalui televisi yang di kemukakan oleh para informasi. Sebanyak 50% informan menyatakan bahwa mereka menonton acara korea dalam seminggu adalah kurang dari 4 kali, dan untuk frekuensi menonton acara korea dalam seminggu lebih dari 4 kali adalah sebanyak 40%, sedangkan 10% menyatakan tidak tahu pasti seberapa sering ia menonton acara korea melalui televisi dikarenakan ia lebih memilih streaming melalui internet. Untuk frekuensi menonton acara korea melalui televisi dalam sehari, 40% informan menyatakan bahwa mereka menghabiskan waktu sebanyak 5 kali, sedangkan masing-masing 30% informan menyatakan dapat menghabiskan kurang dari 3 kali dan 3-5 kali untuk menonton acara tersebut sedangkan frekuensi untuk menonton acara korea melalui televisi per jamnya dalam sehari, 60% informan menyatakan bahwa mereka menghabiskan waktu lebih dari 4 jam dalam sehari dan 40% informan menyatakan bahwa mereka menghabiskan waktu 2-4 jam dalam sehari untuk menonton nya.
Semua data hasil penelitian tersebut menampilkan bagaimana budaya pop korea menjadi incaran kaum muda kita. Mungkin mereka akan menjelaskan dengan gaya dan pemahaman mereka tentang apa yang sementara mereka gemari dan hidupi dalam keseharian hidup. Namun di sisi lain tampak jelas mereka mulai meninggalkan budaya Indonesia sebagai pegangan dalam hidup keseharian. Mereka lebih memperjuangakan budaya lain dari pada budaya sendiri. Kepercayaan tinggi dan motivasi tinggi serta pengakuan positif dari masyarakat dan kalangan keluarga akan sangat membantu mereka untuk lebih tumbuh dalam menghidupi budaya bangsa lain.          

VII. kelebihan dan kelemahan
-          Kelebihan : membantu kita mempelajari budaya lain sebagai sebuah kekayaan informasi dan panutan dalam hidup

-          Kekurangan : proses pengimitasian dari remaja yang berlebihan dapat membuat terjadinya sebuah pergeseran budaya dimana budaya sendiri menjadi hal yang aneh bagi anak bangsa sedangkan budaya luar menjadi santapan lezat bagi para remaja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar